Memaknai hari raya Galungan dengan mengetahui serangkaian kegiatan dalam menyambut hari raya serta makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Buda Kliwon wuku Dungulan adalah hari memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya serta kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan) dimana Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa atau Bhatara dengan segala manisfestasiNya sebagai tanda puji syukur atas rahmatNya serta untuk keselamatan selanjutnya.Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan.
Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa yang dirayakan pada hari Wrhaspati Wage wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Merupakan penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua Bhatara. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.
Sedangkan pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang disebut Sugihan Bali merupakan penyucian badan jasmani masing-masing. Kata “Bali” dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari ini dianjurkan mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Orang yang pikirannya selalu suci tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon wuku Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan.
Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut “pamyakala lara melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Berikutnya adalah hari Sabtu Pon wuku Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu hidup sehat panjang umur. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa yang dirayakan pada hari Wrhaspati Wage wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Merupakan penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua Bhatara. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.
Sedangkan pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang disebut Sugihan Bali merupakan penyucian badan jasmani masing-masing. Kata “Bali” dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari ini dianjurkan mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Orang yang pikirannya selalu suci tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon wuku Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan.
Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut “pamyakala lara melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Berikutnya adalah hari Sabtu Pon wuku Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu hidup sehat panjang umur. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar